Ulama' adalah Pewaris Para Nabi, Barang Siapa Merendahkan Ulama' Berarti Merendahkan Warisan Nabi

Rindu Tausiah, Menurut Kamus Besar Bhs Indonesia, ulama yaitu orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam. Kata ulama datang dari bhs Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim yaitu isim fa'il dari kata dasar : ’ilmu. Jadi ‘aalim yaitu orang yang berilmu dan ‘ulama yaitu orang-orang yang miliki ilmu. 

 " Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman serta orang-orang yang didapatkan ilmu (ulama) beberapa derajat " (QS. Al-Mujadalah : 11) 

Ulama' adalah Pewaris Para Nabi, Barang Siapa Merendahkan Ulama' Berarti Merendahkan Warisan Nabi
Habib Ali Zainal Abidin Bin Abdurrahman Al-jufriy
Ulama (Arab : العلماء al-`Ulamā`, tunggal عالِم ʿĀlim) yaitu pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina serta menuntun umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum permasalahan satu hari hari yang diperlukan baik dari segi keagamaan ataupun sosial kemasyarakatan. Arti sesungguhnya dalam bhs Arab yaitu ilmuwan atau peneliti, lalu makna ulama itu berubah ketika diserap dalam Bhs Indonesia, yang maknanya yaitu sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam. (Wikipedia). 

Pengertian Ulama 

Dengan hal tersebut, pengertian ulama dengan cara harfiyah yaitu “orang-orang yang mempunyai ilmu”. Pengertian ulama dengan cara harfiyah ini searah dengan beberapa pendapat ulama sendiri : 

“Ulama yaitu orang yang ilmunya menyampaikan mereka pada sifat takut pada Allah” (Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). 

“Mereka (para ulama) yaitu orang-orang yang menjelaskan semua apa yang dihalalkan serta diharamkan, dan mengajak pada kebaikan dan menafikan semua bentuk kemudharatan” (Badruddin Al-Kinani). 

“Ulama adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan mengenai ayat-ayat Allah, baik yang berbentuk kauniyah ataupun Quraniyah, dan mengantarnya pada pengetahuan mengenai kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah (takut) kepada-Nya” (M. Quraish Shihab). 

“Karakteristik esensial ulama yaitu iman, ilmu, dan amal, yang semuanya sangat mendalam, tidak sama dengan orang biasa, dan memperoleh pengakuan serta penerimaan dari masyarakat dengan cara kultural” (Mastuhu). 

Oleh karena itu jangan sampai kita sebagai umat islam merendah para ulama kita sendiri, kita juga sudah mengetahui bahwa ulama adalah pewaris para Nabi.

Rasulullah saw. bersabda 

إن العُلُمَاءُ وَرَثَةُ الأَنبِيَاءِ، إِنَّ الأَنبِياَءَ لَم يُوَرِّثُوا دِيناَرًا وَلاَ دِرهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلمَ فَمَن أَخَذَ بِهِ فَقَد أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ 

“Sesungguhnya ulama yaitu pewaris para nabi. Sungguh para nabi tak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka cuma mewariskan ilmu jadi barangsiapa mengambil warisan tersebut ia sudah mengambil bagian yang banyak. ” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi didalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad didalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi didalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah didalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim serta Ibnu Hibban. 

Seperti kita pahami nabi saw meninggalkan warisan pada kita umatnya al-qur'an dan hadits. Dan para ulama juga jadi warisan nabi saw. 

Jadi jangan sampai kita tinggalkan 3 warisan nabi ini. Dalam memahami al qur an dan hadits pun harus ikuti warisan nabi yakni para ulama, lantaran beliau para ulama lah yang paling ngerti dan memahami dengan al qur an dan hadits. Bahkan juga kesesatan lah apabila meninggalkan ilmunya ulama. 

Di samping sebagai penghubung pada diri-Nya dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat dan pertolongan-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga jadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat selalu terpelihara kemurniannya seperti awalnya. Oleh karenanya, kematian salah seorang dari mereka menyebabkan terbukanya fitnah besar untuk muslimin. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat hal semacam ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ اللهَ لاَ يَقبِضُ العِلمَ انتِزَاعاً يَنتَزِعُهُ مِنَ العِباَدِ، وَلَكِن بِقَبضِ العُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَميُبقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفتَوا بِغَيرِ عِلمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا 

“Sesungguhnya Allah tak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya banyak ulama sehingga bila Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kelompok orang-orang bodoh. Lalu mereka di tanya, mereka juga berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan. ” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673). 

Bagaimana rosululloh melukiskan sebab sesatnya seseorang yaitu karena berfatwa bukan dengan ilmunya ulama. 

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyampaikan : Asy-Sya’bi berkata : “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu adalah suatu ilmu. Ini semuanya termasuk juga dari terbaliknya deskripsi kebenaran (fakta) diakhir zaman dan terbaliknya semua urusan. ” 

Didalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr dengan cara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah) : “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat yaitu direndahkannya para ulama serta diangkatnya orang jahat. ” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60). 

Sumber : Risalah Islam. com/Rumah-islam. com
Ulama' adalah Pewaris Para Nabi, Barang Siapa Merendahkan Ulama' Berarti Merendahkan Warisan Nabi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Luthfia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar