Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung

Rindu Tausiah, KH Ruhiat atau di kenal dengan panggilan Abah Ruhiat lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat 11 November 1911 dan meninggal dunia pada tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397. 

Ayah Ruhiat bernama Abdul Gofur dan ibunya Umayah. Ia yaitu Rais Syuriyah PCNU Tasikmalaya, pendiri Pesantren Cipasung Tasikmalaya, satu pesantren yang nantinya dilanjutkan putranya KH Ilyas Ruhiat sebagai Rais Aam PBNU sesudah Muktamar NU di Cipasung pada tahun 1994. 

Pada umur belia, ia belajar ilmu agama di pesantren Cilenga, satu pesantren terkenal waktu itu, yang diasuh oleh KH Sobandi atau Syabandi yang disebut murid dari KH Mahfudz Tremas. Ia mengaji di pesantren itu dari tahun 1922 hingga tahun 1926. selanjutnya ia meneruskan pengembaraan mencari ilmu ke pesantren-pesantren lain. 

KH Ruhiat atau di kenal dengan panggilan Abah Ruhiat
Pada tahun 1927 hingga dengna tahun 1928, ia mengaji ke Pesantren Sukaraja Garut di bawah bimbingan KH Emed, Pesantren Kudang Cigalontang, Tasikmalaya bimbingan KH Abbas Nawawi, dan Pesantren Cintawana bimbingan Kiai Toha. Dengan hal tersebut, silsilah keilmuannya bersambung dengan tokoh-tokoh NU lain yang juga berguru ke kiai tersebut . 

Pada tahun 1931, Ruhiat bermukim di Cipasung. Lalu mengajar santri dan masyarakat sekitaran tempat itu. Mulanya mengajar di masjid untuk setelah itu membangun pesantren yang masih berdiri sampai saat ini. Pesantren itu didirikan secara resmi pada tahun 1932 dengan nama Pesantren Cipasung. 

Dalam mengajarkan bebrapa pengetahuan pesantren, Ruhiat memakai ngalogat dengan bhs Sunda. Ia berpandangan, dengan santri yang berbahasa Sunda jadi harus digunakan bhs Sunda. Santri pertamanya sejumlah sekitaran 40 orang. Mereka yaitu para santri yang dititipkan gurunya dari Cilenga. 

KH Ruhiat dilihat sebagai seseorang kiai yang berpikiran maju pada zamannya, terlebih dalam bagian pendidikan. Pada tahun 1935, ia membangun Madrasayah Diniyah. Pada tahun 1937, mendirikan Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin. Pada th. 1949 mendirikan Sekolah Pendidikan Islam. 

Pada th. 1953 membangun Sekolah Rendah yang lalu beralih jadi Madrasah Ibtidaiyah. Pada th. 1959 membangun Sekolah Menengah Pertama Islam serta ditembah Sekolah Menengah Atas Islam. Dan pada th. 1969 membangun Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian berubah jadi MAN. 

Selain sebagai seseorang kiai pendidik, Ruhiat yaitu seseorang pejuang gerakan kebangsaan yang melawan penjajahan Belanda. Ia pernah di tangkap Belanda serta dipenjara di Sukamiskin Bandung (1941) dan di Ciamis (1942). Pada saat penjajahan Jepang, ia tersangkut pemberontakan yang dilakukan sahabatnya, KH Zainal Mustofa hingga ia kembali dipenjara di Tasikmalaya (1944). Pada saat Revolusi kemerdekaan lagi-lagi ia dipenjara Belanda (1949). 

Sebagai kiai yang berjuang untuk kemerdekaan, pada tahun 1945, sesudah mendengar Proklamasi Kemerdekaan, Ruhiat pergi ke alun-alun Tasikmalaya. Dia lalu berdiri tegap diatas babancong, podium terbuka yang tidak jauh dari pendopo kabupaten. Ia berpidato, menyebutkan dengan tegas kalau kemerdekaan yang telah dicapai bangsa Indonesia cocok dengan perjuangan Islam. Oleh karenanya, kata dia, kemerdekaan mesti dipertahankan dan jangan pernah jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya. 

Saat pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berjalan, ia tidak goyah meskipun masalah dari pihak DI begitu kuat. Ia menolak tawaran jadi salah seseorang imam DI. Ia menolak gerakan yang disebutnya membangun negara didalam negara itu, karena memandangnya sebagai bughat (pemberontakan) yang perlu ditentang. Puncaknya ia nyaris diculik oleh satu regu DI, namun berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia alami keprihatinan yang mengagumkan, karena terpaksa mesti mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. 

Penulis : Abdullah Alawi 
Sumber Referensi : www.nu.or.id
Abah Ruhiat, Pendidik dan Pejuang dari Cipasung Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Luthfia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar